Sejarah Perpustakaan UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang perkembangan perguruan tinggi Islam di Tulungagung. Cikal bakal UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung bermula dari keberadaan Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Cabang Tulungagung yang diresmikan pada 26 Juli 1968 oleh Menteri Agama RI KH. Achmad Dahlan. Pada masa awal tersebut, perpustakaan hadir sebagai bagian dari kebutuhan akademik fakultas untuk menyediakan bahan bacaan dan sumber referensi bagi dosen dan mahasiswa. Pengelolaannya masih dilakukan secara sederhana dan konvensional dengan koleksi yang sebagian besar berupa buku-buku keislaman, pendidikan, dan bidang ilmu yang mendukung kegiatan pembelajaran. Meskipun belum memiliki bentuk kelembagaan seperti sekarang, keberadaan perpustakaan pada masa ini menjadi fondasi awal bagi perkembangan perpustakaan perguruan tinggi Islam di Tulungagung.
Seiring dengan meningkatnya aktivitas pendidikan dan kebutuhan sivitas akademika terhadap sumber informasi, perpustakaan terus berkembang mengikuti perubahan kelembagaan institusi. Pada tahun 1997, Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Cabang Tulungagung berubah menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Tulungagung berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 1997. Perubahan status tersebut turut mendorong penguatan kelembagaan perpustakaan sebagai unit pendukung akademik. Perpustakaan mulai dikembangkan dengan pengelolaan yang lebih terstruktur, meliputi pengadaan dan pengembangan koleksi, pengolahan bahan pustaka, pelayanan sirkulasi, pelayanan referensi, administrasi, serta penataan koleksi. Perpustakaan tidak lagi sekadar menjadi tempat penyimpanan buku, tetapi mulai berfungsi sebagai pusat sumber informasi untuk mendukung proses pembelajaran di lingkungan perguruan tinggi.
Dalam perjalanan kepemimpinannya, Perpustakaan UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung juga mengalami beberapa kali pergantian kepala perpustakaan. Salah satunya adalah kepemimpinan Dra. Siti Aminah menjadi bagian dari fase awal pengembangan dan penataan perpustakaan sebagai unit pendukung kegiatan akademik. Pada masa tersebut, pengelolaan perpustakaan masih banyak berorientasi pada pengelolaan koleksi tercetak dan pelayanan konvensional kepada mahasiswa dan dosen. Selanjutnya, kepemimpinan perpustakaan diteruskan oleh Nurul Amin, M.Ag., yang melanjutkan proses penguatan tata kelola dan pelayanan perpustakaan seiring dengan perkembangan kebutuhan informasi sivitas akademika.
Perubahan besar kembali terjadi pada tahun 2013 ketika STAIN Tulungagung berubah menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 50 Tahun 2013. Perubahan status menjadi institut membawa konsekuensi terhadap perkembangan bidang keilmuan, program studi, jumlah mahasiswa, dosen, serta kegiatan penelitian. Kondisi tersebut menyebabkan kebutuhan terhadap sumber informasi semakin beragam dan kompleks. Perpustakaan kemudian berkembang sebagai pusat sumber informasi akademik yang tidak hanya menyediakan bahan pustaka tercetak, tetapi juga mulai mengembangkan pemanfaatan teknologi informasi, otomasi perpustakaan, katalog daring, sumber informasi elektronik, serta pengelolaan karya ilmiah sivitas akademika.
Pada periode 2014–2023, Perpustakaan dipimpin oleh Drs. Samsul Huda, M.Pd.I. Masa kepemimpinan tersebut merupakan salah satu periode penting dalam perkembangan Perpustakaan UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung karena berlangsung pada masa IAIN Tulungagung sekaligus mencakup proses perubahan kelembagaan menjadi universitas. Pada masa ini, perpustakaan terus memperkuat pengelolaan koleksi dan layanan, meningkatkan pemanfaatan teknologi informasi, mengembangkan sumber informasi elektronik, serta memberikan dukungan terhadap kebutuhan pembelajaran dan penelitian sivitas akademika. Ketika IAIN Tulungagung berubah menjadi UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung pada tahun 2021, Drs. Samsul Huda, M.Pd.I., tetap dipercaya sebagai Kepala UPT Perpustakaan untuk periode 2021–2023. Keberlanjutan kepemimpinan tersebut menunjukkan adanya kesinambungan pengelolaan perpustakaan dalam proses transisi dari institut menjadi universitas.
Perubahan bentuk IAIN Tulungagung menjadi UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (UIN SATU) berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2021 menjadi tonggak baru dalam sejarah perpustakaan. Sebagai universitas, bidang keilmuan yang dikembangkan menjadi semakin luas, sehingga kebutuhan terhadap sumber informasi juga semakin kompleks. Perpustakaan dituntut mampu menyediakan koleksi dan layanan yang mendukung berbagai bidang keilmuan, baik ilmu-ilmu keislaman maupun ilmu sosial, pendidikan, ekonomi, sains, teknologi, dan bidang keilmuan lainnya. Pada fase ini, perpustakaan semakin diarahkan menjadi pusat sumber informasi akademik yang mendukung pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Setelah berakhirnya masa kepemimpinan Drs. Samsul Huda, M.Pd.I., pada periode 2023–2024, Perpustakaan UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dipimpin oleh Moch. Fikriansyah Wicaksono, M.A. Periode ini menjadi bagian dari proses konsolidasi dan penguatan tata kelola perpustakaan setelah perubahan kelembagaan menjadi universitas. Pengembangan layanan semakin diarahkan pada kebutuhan pemustaka yang mulai mengalami perubahan akibat perkembangan teknologi digital. Perpustakaan tidak hanya dituntut untuk menyediakan koleksi tercetak, tetapi juga memberikan akses terhadap sumber informasi elektronik dan menyediakan layanan yang lebih mudah, cepat, dan sesuai dengan karakteristik perilaku informasi generasi digital.
Pada periode 2025–2026, kepemimpinan Perpustakaan dilanjutkan oleh Dr. Yudi Krisno Wicaksono, M.IP. Periode ini menjadi salah satu fase penting dalam akselerasi transformasi digital Perpustakaan UIN SATU. Pemanfaatan teknologi mulai semakin terlihat dalam berbagai layanan perpustakaan, termasuk pengembangan layanan digital, e-resources, otomasi, serta pemanfaatan teknologi dalam proses sirkulasi. Perpustakaan juga mengembangkan fasilitas seperti OPAC, ruang multimedia, ruang diskusi, ruang preservasi, koleksi tugas akhir dan referensi, serta layanan pendidikan pemustaka. Inovasi layanan juga ditunjukkan melalui pemanfaatan teknologi Bibliotheca dan automatic book return yang memungkinkan proses pengembalian koleksi dilakukan secara lebih mandiri oleh pemustaka.
Perkembangan perpustakaan semakin diperkuat dengan hadirnya berbagai sumber dan perangkat pendukung penelitian berbasis digital. Pada tahun 2026, Perpustakaan UIN SATU mengembangkan layanan Perlego dan Connected Papers sebagai bagian dari upaya mendukung kebutuhan penelitian dan penelusuran literatur ilmiah. Perpustakaan juga memperluas jejaring kerja sama melalui keterlibatan dalam International Association of University Libraries (IATUL). Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa perpustakaan tidak lagi hanya berorientasi pada pengelolaan koleksi, tetapi mulai menempatkan diri sebagai mitra akademik yang membantu sivitas akademika dalam menemukan, mengakses, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi untuk kegiatan pembelajaran dan penelitian.
Memasuki tahun 2026, kepemimpinan Perpustakaan UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung beralih kepada Dr. Ahmad Fahrudin, M.Pd.I. Kepemimpinan baru ini berlangsung ketika perpustakaan telah memiliki fondasi layanan digital dan teknologi informasi yang semakin kuat. Tantangan perpustakaan pada periode ini tidak hanya berkaitan dengan penyediaan dan pengelolaan koleksi, tetapi juga bagaimana memastikan seluruh sumber informasi dapat ditemukan dan dimanfaatkan secara efektif oleh sivitas akademika. Perpustakaan dituntut untuk terus meningkatkan kualitas layanan, memperkuat literasi informasi, mendukung penelitian, mengembangkan sumber informasi digital, serta beradaptasi dengan perkembangan teknologi baru, termasuk kecerdasan buatan dan perubahan perilaku pencarian informasi.
Dalam perkembangannya, Perpustakaan UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung telah mengalami transformasi yang cukup panjang, mulai dari perpustakaan sederhana yang berorientasi pada penyediaan bahan bacaan, berkembang menjadi unit perpustakaan perguruan tinggi pada masa STAIN, kemudian menjadi pusat sumber informasi akademik pada masa IAIN, hingga berkembang menjadi perpustakaan universitas yang memanfaatkan teknologi informasi, sumber elektronik, repositori, otomasi, dan berbagai layanan digital pada masa UIN SATU. Perubahan tersebut tidak hanya terlihat dari jenis koleksi dan teknologi yang digunakan, tetapi juga dari perubahan paradigma pengelolaan perpustakaan. Perpustakaan secara bertahap bergerak dari paradigma library as collection menuju library as information service dan selanjutnya menuju library as learning, research, and knowledge center.
Dengan perjalanan tersebut, Perpustakaan UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung memiliki posisi strategis dalam mendukung pencapaian tujuan universitas. Perpustakaan tidak lagi sekadar menjadi tempat penyimpanan dan peminjaman buku, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari ekosistem akademik yang menyediakan akses terhadap pengetahuan, mendukung proses pembelajaran, memfasilitasi penelitian, mengelola dan menyebarluaskan pengetahuan institusi, meningkatkan literasi informasi, serta membangun jejaring kerja sama. Perjalanan dari Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Cabang Tulungagung, STAIN Tulungagung, IAIN Tulungagung, hingga menjadi UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung menunjukkan bahwa perkembangan perpustakaan selalu berjalan beriringan dengan perkembangan institusinya. Setiap perubahan kelembagaan dan kepemimpinan memberikan kontribusi terhadap terbentuknya Perpustakaan UIN SATU sebagaimana kondisinya saat ini, sekaligus menjadi landasan untuk terus berkembang sebagai pusat pengetahuan dan informasi akademik yang adaptif terhadap perubahan zaman.
