Tulungagung, Rabu 26 Agustus 2026 — UPT Perpustakaan UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung menyelenggarakan kegiatan “Pelatihan Kutub Turats di Era Digital: Pelestarian, Aksesibilitas, dan Pemanfaatan – Liputan Situs Sejarah dan Penelusuran Turats”. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat komitmen perguruan tinggi dalam menjaga, menginventarisasi, mendigitalisasi, serta mengembangkan pemanfaatan khazanah manuskrip Islam dan tradisi intelektual lokal.
Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut atas arahan Rektor UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung agar potensi manuskrip yang tersebar di berbagai wilayah, khususnya Tulungagung, Kediri, Ponorogo, dan Blitar, dapat diselamatkan dan dikembangkan sebagai sumber pengetahuan yang dapat diakses oleh generasi mendatang.
Kepala UPT Perpustakaan UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Ahmad Fahrudin, menegaskan bahwa keberadaan manuskrip di masyarakat merupakan kekayaan intelektual yang perlu mendapatkan perhatian serius.
“Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari instruksi langsung Rektor tentang bagaimana manuskrip yang tersebar di Tulungagung, Kediri, Ponorogo, dan Blitar dapat kita selamatkan, salah satunya melalui digitalisasi.”
Menurutnya, digitalisasi menjadi salah satu langkah strategis untuk memastikan manuskrip tetap terjaga sekaligus membuka peluang akses yang lebih luas bagi sivitas akademika, peneliti, dan masyarakat.
Filologi sebagai Jalan Memahami Masa Lalu
Salah satu materi dalam kegiatan disampaikan oleh Muhdhor, yang mengajak peserta melihat manuskrip tidak semata-mata sebagai benda lama, tetapi sebagai sumber pengetahuan yang memiliki nilai historis, sosial, budaya, dan intelektual.
Muhdhor menyampaikan bahwa dirinya bukan seorang filolog, melainkan seorang penikmat hasil kerja para filolog. Ia menggambarkan kedekatan dengan masa lalu melalui ungkapan yang menarik.
“Kalau Anda sudah jatuh cinta dengan masa lalu, maka Anda akan sangat banyak berutang budi dengan filolog.”
Ia menjelaskan bahwa filologi memiliki prosedur ilmiah dalam mengungkap dan memahami teks-teks masa lalu. Dalam konteks yang lebih ringan, ia bahkan membandingkan proses tersebut dengan aktivitas stalking yang memiliki pendekatan emosional. Menurutnya, rasa ingin tahu dan ketertarikan terhadap masa lalu dapat menjadi modal awal, tetapi penelitian manuskrip tetap harus dilakukan melalui prosedur ilmiah.
Setelah manuskrip ditemukan, tahapan berikutnya adalah melakukan penelitian agar teks dapat disajikan secara akurat sekaligus diinterpretasikan secara tepat. Muhdhor juga membandingkan pendekatan filologi dengan tradisi tahqiq di Timur Tengah yang lebih menekankan penyajian teks.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa manuskrip menyimpan potensi penelitian yang sangat luas. Manuskrip tidak hanya penting untuk dikaji dari sisi teks, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk untuk penelitian antropologi, sosiologi, sejarah, budaya, hingga kehidupan masyarakat pada masa lalu.
Ia memberikan contoh penelitian yang mengungkap kembali jenis makanan tradisional Jawa yang tercatat dalam manuskrip, tetapi kini sudah tidak lagi ditemukan dalam kehidupan masyarakat. Hal tersebut menunjukkan bahwa manuskrip dapat menjadi sumber penting untuk merekonstruksi berbagai aspek kehidupan masyarakat masa lalu.
Dari “Pusaka” Menjadi “Pustaka”
Salah satu persoalan yang disoroti dalam kegiatan adalah pola pengelolaan manuskrip yang masih banyak berada di tangan keluarga. Manuskrip sering kali diwariskan dan diperlakukan sebagai pusaka, bukan sebagai pustaka.
Kondisi tersebut membuat manuskrip memiliki nilai sakral dan historis bagi keluarga pemiliknya, tetapi pada saat yang sama belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai sumber pengetahuan publik.
Karena itu, diperlukan pendekatan yang tetap menghormati kepemilikan dan nilai budaya manuskrip, sekaligus mendorong agar kandungan pengetahuannya dapat diselamatkan melalui inventarisasi, dokumentasi, digitalisasi, dan penelitian.
Dalam konteks tersebut, inisiatif UPT Perpustakaan UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung diarahkan tidak hanya pada upaya “berburu” manuskrip, tetapi juga pada digitalisasi, eksplorasi, inventarisasi, dan pengembangan kajian turats.
Manuskrip sebagai Artefak dan Teks yang Terus Hidup
Materi berikutnya disampaikan oleh Heru, yang mengajak peserta melihat manuskrip dari perspektif yang lebih luas. Ia mengembangkan gagasan bahwa manuskrip tidak hanya perlu dibaca sebagai teks, tetapi juga dipahami sebagai artefak yang memiliki perjalanan sejarah dan transformasi makna.
Dengan merujuk pada gagasan Kuntowijoyo tentang gagasan, tindakan, dan artefak, Heru menjelaskan bahwa manuskrip dapat ditempatkan sebagai salah satu bentuk artefak yang merekam perjalanan intelektual dan kebudayaan masyarakat.
Ia memberikan contoh mengenai Qur’an Setambul yang dikenal dalam tradisi masyarakat Jawa. Istilah tersebut berkaitan dengan Istanbul dan memiliki sejarah transformasi penggunaan ketika masuk ke lingkungan masyarakat Jawa. Jika dalam konteks asalnya memiliki fungsi tertentu, dalam perkembangan di Jawa teks tersebut dapat mengalami perubahan pemaknaan dan bahkan diperlakukan sebagai jimat.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa teks tidak selalu memiliki makna yang statis. Ketika berpindah ruang, komunitas, dan zaman, sebuah teks dapat mengalami perubahan fungsi dan pemaknaan.
Heru kemudian memperkenalkan gagasan “living text”, yaitu pendekatan yang melihat bagaimana teks mulai hidup di tengah masyarakat, tumbuh, digunakan, dimaknai, dan mengalami transformasi dari waktu ke waktu.
Dengan pendekatan ini, kajian turats tidak berhenti pada pertanyaan mengenai apa isi manuskrip, tetapi berkembang menjadi pertanyaan mengenai bagaimana manuskrip tersebut hidup, digunakan, diwariskan, dan dimaknai oleh masyarakat.
Perpustakaan sebagai Pusat Pelestarian dan Akses Pengetahuan
Kegiatan Pelatihan Kutub Turats di Era Digital menegaskan posisi perpustakaan bukan hanya sebagai tempat penyimpanan koleksi, tetapi juga sebagai ruang pelestarian dan pengembangan pengetahuan.
Digitalisasi menjadi salah satu strategi penting untuk menjaga keberlanjutan manuskrip. Melalui dokumentasi digital, informasi yang terkandung dalam manuskrip dapat dilestarikan sekaligus memiliki peluang untuk diakses oleh peneliti dan generasi muda tanpa harus mengurangi nilai historis manuskrip aslinya.
Ke depan, UPT Perpustakaan UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung berkomitmen untuk memperkuat ekosistem pelestarian kutub turats melalui inventarisasi manuskrip, digitalisasi koleksi, penelusuran situs sejarah, penguatan jejaring dengan pemilik manuskrip, serta pengembangan kajian lintas disiplin.
Upaya tersebut diharapkan mampu menjadikan khazanah kutub turats yang tersebar di wilayah Tulungagung, Kediri, Ponorogo, Blitar, dan sekitarnya tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga sumber pengetahuan yang relevan bagi masa kini dan masa depan.
Melestarikan turats bukan sekadar menyelamatkan manuskrip dari kerusakan, tetapi juga menyelamatkan pengetahuan, ingatan, dan peradaban yang terkandung di dalamnya. (af)
