Skip to content
TODAY A READER, TOMORROW A LEADER
facebook
twitter
youtube
instagram
Perpustakaan UIN SATU Tulungagung  NPP 3504032F1000001
Call Support +62 857 3087 3023
Email Support [email protected]
Location Jl. Mayor Sujadi Timur 46 Tulungagung
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah Perpustakaan
    • Visi dan Misi Perpustakaan
    • Jam Layanan
    • SDM
      • Kepala Perpustakaan
      • Koordinator Bidang Pengembangan Koleksi
      • Koordinator Bidang Pengolahan Bahan Pustaka
      • Koordinator Bidang Pelayanan Pemustaka
      • Koordinator Bidang Pengembangan Teknologi Informasi
      • Tenaga Teknis Perpustakaan
      • Dosen Pembantu
  • Artikel
    • Berita
    • Kegiatan
    • Pengumuman
  • Layanan
    • Layanan Sirkulasi
    • Layanan E-Resources
    • Layanan Cek Plagiasi
    • Layanan Administrasi
    • Layanan Referensi dan Koleksi Khusus
  • E-RESOURCES
    • Repository
    • E-Pustaka
    • E-Book Kitab
    • Online Book System
    • E-Journal
    • EBSCO
    • PROQUEST
    • ScienceDirect
  • Download
    • Pedoman Unggah Mandiri
    • Materi User Education 2022
    • Form Kartu Hilang
    • Hasil Survey Layanan Perpustakaan
      • 2016
      • 2017
      • 2018
  • Kontak

Budaya Asing yang Patut untuk Ditiru

Home > Artikel > Budaya Asing yang Patut untuk Ditiru

Budaya Asing yang Patut untuk Ditiru

Posted on 15 Juni 20209 Juli 2020 by admin
0

Budaya merupakan energi sosial yang mendorong manusia untuk berbuat sesuai dengan kebiasaan yang berlaku pada suatu kelompok, yakni sesuatu yang unik yang mengandung arti, arah, dan mobilisasi. Kebudayaan merupakan kebiasaan yang melekat dan menjadi identitas bagi suatu kaum. Hal tersebut terjadi secara turun-temurun dalam kehidupan suatu kelompok masyarakat dan dianggap merupakan hal yang biasa untuk dilakukan. Merupakan subuah kelaziman bahwa masyarakat menjadikan kebiasaan tersebut sebagai gaya hidup mereka. Setiap negara mempunyai budaya yang berbeda-beda tergantung dari kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakatnya.

Indonesia termasuk ke dalam negara yang menganut budaya timur. budaya orang timur terutama Indonesia lebih mengedepankan tata krama atau biasa disebut dengan unggah-ungguh di dalam kehidupan bermasyarakatnya. Di Indonesia setiap aspek kehidupan diatur dengan menggunakan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.

Namun hal itu berkebalikan dengan budaya orang barat. Sebagian besar masyarakat Indonesia menganggap bahwa budaya barat adalah budaya yang bebas dan liberal. Misalnya saja perihal penampilan, cara berpakaian orang barat cenderung terbuka. Apalagi pergaulan hidup disana begitu bebas, minuman alkohol, seks bebas, dan atheisme merupakan hal yang sudah biasa dilakukan. Karena itulah budaya barat dianggap buruk oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun tahukah kalian bahwa tidak semua hal yang dianut oleh orang barat itu buruk. Ada beberapa budaya di negara barat yang tidak ada di Indonesia namun patut untuk ditiru. Penasaran? Mari simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

  1. Mendahulukan penyeberang jalan

Sekilas hal tersebut terdengar sepele, namun tahukah kalian bahwa hal itu sangat sulit untuk dilakukan. Jika tidak dibiasakan maka mustahil untuk membudayakan toleransi kecil semacam itu. Kita tahu bahwa pengendara di Indonesia bisa tertib dikarenakan adanya aturan lalu lintas. Namun sering kita temui di area penyeberangan sangat jarang kendaraan yang mau mengalah dan mendahulukan penyeberang jalan. Padahal di barat penyeberang jalan sangat dihargai dan merupakan salah satu prioritas yang harus didahulukan ketika berada di jalan. Jika ada seseorang yang hendak menyeberang maka setiap kendaraan yang akan melintas di hadapannya akan berhenti dan menunggu hingga orang tersebut selesai menyeberangi jalan. Tanpa ada kewajiban ataupun lampu lalu lintas yang mengatur, mereka dengan tertib melakukan hal tersebut. Selain melatih kesabaran ternyata hal tersebut juga melatih diri kita terhadap kepedulian sosial.

2. Menghargai waktu

Ada sebuah slogan “waktu adalah uang”. Hal tersebut memang berlaku untuk negara barat, namun di Indonesia hanya sebagian kecil orang yang benar-benar menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hanya beberapa orang saja yang dapat memanfaatkan waktu dalam hidupnya dengan sebaik mungkin. Indonesia dikenal sebagai negara yang kurang bisa menghargai waktu. Bahkan ada istilah “jam ngaret” yang sudah menjadi budaya. Kurangnya disiplin dan seringnya menunda-nunda pekerjaan membuatnya kurang bisa menghargai waktu. Bagaimana merubah budaya ini? Budaya memang tidak mudah untuk di rubah apalagi dalam waktu singkat. Namun tidak mudah bukan berarti tidak bisa. Renald Khasali dalam bukunya Myelin mengungkapkan berdasarkan pengalaman bersama tim yang dipimpinnya, setidaknya ada 5 langkah yang harus dilakukan untuk merubah budaya, yaitu dipaksa, terpaksa, bisa, biasa, dan akhirnya menjadi budaya.

3. Mengutamakan orang yang berkebutuhan khusus/ difabel

Tidak banyak dari kita yang menyadari bahwa hal kecil yang kita lakukan akan terasa sangat berarti bagi orang lain. Salah satunya yaitu dengan memprioritaskan orang yang berkebutuhan khusus (difabel) atau memiliki keterbatasan fisik ketika berada di tempat umum. Fasilitas umum merupakan hak yang diperuntukkan bagi seluruh masyarakatnya. Karena itulah diperlukan kesadaran yang tinggi bagi seseorang untuk bisa berempati terhadap kaum difabel. Memprioritaskan mereka merupakan tindakan yang terpuji, dan anehnya kebiasaan tersebut justru diusung oleh budaya barat. Kebiasaan positif orang barat ini sangat patut untuk kita contoh. Apalagi saat ini sudah banyak tempat-tempat umum yang menyediakan fasilitas khusus untuk difabel. Tidak ada salahnya jika kita peduli dan berbagi kebahagiaan kecil dengan mereka.

4. Budaya antri

Mengantri merupakan kegiatan yang membutuhkan kesabaran tinggi. Oleh karena itu tidak heran jika banyak orang yang tidak mampu menerapkannya hanya karena tidak mampu untuk bersabar. Di Indonesia masih sering kita temui orang-orang yang belum memahami pentingnya budaya mengantri. Padahal mengantri merupakan bentuk dari sikap menghargai orang lain. Jika ingin dihargai orang maka hargailah orang lain terlebih dahulu. Sudahkah kamu melakukan hal itu?

Penulis : Ich@

Sumber : Maria Magazine

Pos-pos Terbaru

  • Prosedur Pendaftaran E-Pustaka UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
  • Pelatihan Mendeley
  • LIBFEST
  • Layanan Repository
  • Serah Simpan Karya Tugas Akhir Mahasiswa

Arsip

  • Januari 2026
  • Desember 2025
  • November 2025
  • September 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Juni 2025
  • April 2025
  • September 2024
  • Juli 2024
  • Februari 2024
  • Desember 2023
  • November 2023
  • Oktober 2023
  • Agustus 2023
  • Juli 2023
  • Desember 2022
  • November 2022
  • Oktober 2022
  • September 2022
  • Agustus 2022
  • Juli 2021
  • Juni 2021
  • Maret 2021
  • September 2020
  • Agustus 2020
  • Juli 2020
  • Juni 2020
  • Mei 2020
  • April 2020
  • Maret 2020
  • Januari 2020
  • Desember 2019
  • November 2019
  • Oktober 2019
  • Agustus 2019
  • Juli 2019
  • Juni 2019
  • Maret 2019
  • Januari 2019
  • November 2018
  • September 2018
  • Juni 2016
  • Desember 2009

Kategori

  • Artikel
  • Berita
  • E-Pustaka
  • FAQ
  • Kegiatan
  • Layanan Terbaru
  • New Slider
  • Panduan
  • Partnership
  • Pengumuman
  • Portofolio
  • Service
  • Slider
  • tak berkategori
  • Testimoni

Meta

  • Masuk
  • Feed entri
  • Feed komentar
  • WordPress.org

Pos-pos Terbaru

  • Prosedur Pendaftaran E-Pustaka UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
  • Pelatihan Mendeley
  • LIBFEST
  • Layanan Repository
© 2026 Perpustakaan UIN SATU Tulungagung NPP 3504032F1000001 | WordPress Theme: Enlighten